"SINGGAH KI DISINI ABSEN BOSS.....!!

"SINGGAH KI DISINI ABSEN BOSS.....!!

SEKRETARIAT ALUMNI UNIKA ATMAJAYA MAKASSAR

SEKRETARIAT ALUMNI UNIKA ATMAJAYA MAKASSAR

Minggu, 16 Januari 2011

Perut Gendut Bikin Otak Menyusut?

Perut Gendut Bikin Otak Menyusut?

Selasa, 11 Januari 2011 | 11:52 WIB
Telegraph.co.uk
Di Jerman orang gendut diusulkan bayar "pajak lemak"
KOMPAS.COM — Ini adalah peringatan bagi mereka yang merasa badannya semakin "melar" atau lingkar perutnya terus "membengkak". Hasil temuan terbaru para ahli di Amerika mengungkapkan,  lingkar perut yang besar dapat membuat otak Anda menciut!
"Kegemukan atau obesitas memang berkaitan erat dengan meningkatnya risiko mengidap diabetes tipe 2, yang juga berhubungan dengan gangguan pada kemampuan kognitif," ungkap Antonio Convit, peneliti dari New York University School of Medicine.
Dalam studinya, Convit ingin memastikan apakah obesitas juga memiliki dampak langsung terhadap struktur fisik dari otak manusia.
Sebagai bagian dari risetnya, ia menggunakan metode pencitraan magnetic resonance imaging (MRI) untuk membandingkan otak  44 relawan yang mengalami obesitas dengan 19 relawan berbadan langsing. Relawan yang dilibatkan dalam studi ini memiliki usia dan latar belakang yang sama.
Hasil penelitian menunjukkan, mereka yang mengalami obesitas memiliki cairan yang lebih banyak pada daerah amygdala—bagian otak yang terlibat dalam perilaku makan. Riset juga menunjukkan ukuran orbitofrontal cortices yang lebih kecil pada relawan berlingkar perut besar. Bagian orbitofrontal cortices  berperan penting untuk mengendalikan impuls serta ikut berperan dalam perilaku makan.
"Hal itu berarti bahwa hanya sedikit saja sel-sel neuron (pada relawan berobesitas), atau  sel-sel neuron itu menciut," ujar Convit seperti dikutip New Scientist.
Diabetes dan gangguan kognitif
Berdasarkan literatur kesehatan,  insulin—yang berfungsi mengatur metabolisme karbohidrat dan lemak dalam tubuh—juga bertugas mengontrol suplai dopamin kepada otak. Dopamin adalah zat neurotransmiter yang dibutuhkan otak untuk memusatkan perhatian, penghargaan, dan aktivitas motorik.
Kurangnya insulin dapat mengganggu aktivitas dopamin yang berujung pada gangguan pada otak seperti depresi, penyakit parkinson, schizophrenia, dan  attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD).
Studi-studi yang berkembang saat ini menegaskan bahwa mengubah faktor gaya hidup, khususnya melakukan olahraga secara teratur, mungkin menjadi cara yang efektif untuk meredam risiko gangguan otak pada usia lanjut.
Sumber : NewScientist
Penulis: AC   |   Editor: Asep Candra   |  Dibaca : 6630

Mengukur Panjang Usia dari Kecepatan Jalan

Mengukur Panjang Usia dari Kecepatan Jalan

Kamis, 6 Januari 2011 | 10:29 WIB
Shutterstock
Ilustrasi jalan kaki
KOMPAS.com — Para ahli yang tertarik mendalami usia harapan hidup kini menemukan cara sederhana untuk mengetahuinya, yakni melihat kecepatan berjalan seseorang.
Mereka yang secara konsisten berjalan 1 meter per detik (sekitar 2,25 mph) atau lebih ditengarai lebih panjang umur dibanding orang dengan jenis kelamin dan usia yang sama tetapi lebih lambat saat berjalan.
"Kapasitas seseorang untuk berjalan menggambarkan kebugaran dan kesehatannya," kata Dr Stephanie Studenski, peneliti dari University of Pittsburgh.
Meski demikian, ia mengatakan, tujuan dari penelitian ini bukanlah mengajak orang untuk berjalan lebih cepat supaya panjang umur.
"Tubuh kita secara alami akan menentukan kecepatan berjalan yang paling sesuai dengan kemampuan kita. Karena itu, kecepatan berjalan bisa menjadi indikator kesehatan," kata Studenski.
Ia mengatakan, berjalan cepat juga bukan jaminan panjang usia karena ada banyak faktor lain yang menentukan kondisi kesehatan. Cara dan kecepatan berjalan sangat bergantung pada energi yang dimiliki tubuh, kontrol gerakan, dan koordinasi.
Oleh karena itu, dibutuhkan fungsi yang tepat untuk menjalankan sistem yang kompleks itu dan melibatkan kerja kardiovaskular, saraf, dan sistem otot.
Penelitian Studenski tersebut dibuat berdasarkan analisis terhadap sembilan riset mengenai kecepatan berjalan, usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, riwayat kesehatan, dan angka harapan hidup terhadap lebih dari 34.500 orang.
Kecepatan berjalan ini secara akurat bisa dipakai untuk memprediksi usia harapan hidup untuk orang berusia 75 tahun ke atas.
Sumber : LiveScience
Penulis: AN   |   Editor: Asep Candra   |  Dibaca : 23028

Lelaki Pemarah Rentan Sakit Gigi

Lelaki Pemarah Rentan Sakit Gusi

Sabtu, 15 Januari 2011 | 12:41 WIB
Kompas.com - Ketika kita marah, kondisi ini tidak jarang membuat kita sedih. Dan pada saat merasa kesepian, perasaan ini sering mendorong kita untuk menghindari orang lain. Berita buruknya adalah, rasa marah dan kesendirian bisa dikaitkan dengan penyakit gusi, terutama pada pria.
Hasil ini didapat dari survei terhadap lebih dari 42.500 ahli kesehatan profesional. Hampir 60% dari sukarelawan adalah dokter gigi, 20% dokter hewan, dan sisanya adalah apoteker, dokter mata, dokter osteopati, dan ahli penyakit kaki.
Ketika studi yang dimasukkan di dalam Journal of the American Dental  Association ini dimulai tak satu pun lelaki memiliki penyakit gusi. Namun, dalam kurun waktu 4 tahun, 1.100 dari mereka menyatakan memiliki setidaknya satu serangan penyakit gusi. Atau secara resminya disebut periodontitis. Penyakit gusi merupakan sebuah infeksi yang menyerang jaringan yang menyokong gigi. Dan kondisi ini merupakan penyebab utama terjadinya penanggalan gigi pada orang dewasa.
Lelaki yang mengatakan mereka marah dalam setiap hari ternyata memiliki risiko penyakit gusi 43% lebih besar. Lelaki yang mencetak skor marah tertinggi 72% lebih banyak terkena penyakit gusi, dibanding lelaki yang mencetak skor marah terendah.
Dan pria yang dilaporkan memiliki setidaknya satu teman dekat memiliki 30% terkena risiko penyakit gusi ketimbang mereka yang memiliki teman yang lebih banyak. Partisipan yang mengikuti acara keagamaan secara rutin mampu memangkas risiko penyakit gusi hingga 27%.
Peneliti Anwar T. Merchant, DMD, ScD, daru Harvard School of Dental Medicine menyimpulkan, dengan memiliki dukungan sosial dan belajar untuk bisa mengekspresikan rasa marah, mampu menjadi langkah perlindungan gusi yang baik. (PreventionIndonesia/Astrid Anastasia)

Paus Pilih Protestan Pimpin Badan Ilmiah

Paus Pilih Protestan Pimpin Badan Ilmiah
Minggu, 16 Januari 2011 | 02:09 WIB
VATICAN CITY, KOMPAS.com — Paus Benedictus XVI menunjuk Werner Arber, seorang Protestan, untuk memimpin akademi ilmiah Vatikan, Sabtu (15/1/2011). Ini untuk pertama kali seorang bukan Katolik memimpin badan yang telah berusia berabad-abad itu.
Pakar mikrobiologi Swiss berusia 81 tahun itu akan menggantikan ilmuwan Italia, Nicola Cabibbo, yang meninggal pada Agustus lalu untuk memimpin Akademi Sains Kepausan, demikian keterangan pers Vatikan.
Menurut I.Media, kantor berita khusus soal informasi keagamaan, penunjukan ini untuk pertama kalinya sejak akademi itu didirikan pada tahun 1603.
Arber, yang mengajar di University of Basel, memenangkan hadiah Nobel 1978 untuk fisiologi atau ilmu kedokteran bersama ilmuwan Amerika, Hamilton Smith dan Daniel Nathans, berkat penemuan dan aplikasi enzim-enzim restriksi mereka.
Penemuan dan penggunaan enzim yang merupakan mekanisme pertahanan bakteris terhadap infeksi telah menghasilkan revolusi dalam genetika molekuler.
Arber menjadi anggota akademi ilmiah Vatikan sejak Mei 1981 dan tokoh di dewan direkturnya. Sekitar 30 penerima Nobel adalah anggota Akademi Sains Kepausan, yang memiliki akarnya di Akademi Lincei yang didirikan oleh Federico Cesi, seorang penyokong seni dan sains yang juga mengembangkan teleskop Galileo.
Lembaga itu yang mengumpulkan 80 peneliti ilmiah dari seantero dunia, mempelajari enam bidang besar, termasuk sains-sains fundamental, bioetika, dan juga masalah lingkungan.
ANT, AFP
Sumber :
Editor: yuliDibaca : 7480

Kamis, 06 Januari 2011

Reuni Uaj Makassar

  • Punya ceritera, kesan paling indah bersama teman a/ bersama dgn pacar saat di kampus. Yang membuat kamu kesal dan sakit hati, mata kuliah yg paling tidak kamu sukai, jurus jitu menghadapi ujian ... dstnya ... bagi ceriterax disini.
    Punya foto2 jadul, boleh juga. Dibongkar dan cari deh lalu di upload disini.
    Siapa tahu ceritera kamu dan ...Lihat Selengkapnya
    10 jam yang lalu ·  · 
    • 4 orang menyukai ini.
      • Reuni Uaj Makassar Ok tmn2 ... malam udah makin larut ... besok disambung ceriteranya ... bobo dulu ya ... mat malam semua n mat istiragat ... sweet dream ...
        8 jam yang lalu · 
      • Reuni Uaj Makassar Antonius, Tarsiono, terima kasih jempolnya ... yuk share ceritera saat di kampus dgn tmn2 ... di tunggu sharex ya
        55 menit yang lalu · 

Selasa, 28 Desember 2010

Baca Al Fatihah, Coba Tenangkan Massa

Baca Al Fatihah, Coba Tenangkan Massa
Minggu, 26 Desember 2010 | 18:19 WIB
Laporan Wartawan Tribunnews.com, M Ismunadi
JAKARTA, KOMPAS.com — Kepolisian terus berupaya menenangkan massa suporter timnas Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (26/12/2010). Upaya petugas antara lain mengajak suporter berdoa untuk kemenangan timnas dalam laga leg pertama final Piala AFF 2010 nanti malam.
"Untuk yang beragama Islam, mari kita membaca Al Fatihah. Yang lainnya silakan berdoa menurut kepercayaan masing-masing," ungkap seorang polisi lewat pengeras suara di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK,) Minggu (26/12/2010).
Sedikitnya 10.000 suporter memadati empat sektor tribun di SUGBK. Mereka diarahkan keluar lewat empat pintu yang disediakan panitia. Saat keluar, setiap satu penonton akan bisa membeli satu tiket.
Selama proses pembelian tiket, imbuaan untuk tetap tenang terus berkumandang lewat pengeras suara.
"Kita tunjukkan bahwa kita ini bangsa yang tertib. Tolong dijaga dompetnya dan barang-barang berharga lainnya. Kalau terus-terusan memikirkan tiket tapi kemudian dompetnya hilang, buat apa?" ujar petugas.
Pembelian tiket dikawal ketat anggota kepolisian di empat pintu keluar tribun. Polisi membantu petugas keamanan panitia lokal yang ikut menjaga penjualan tiket.
Sumber : tribunnews.com

SBY Pakai Kostum Bernomor Punggung 9

SBY Pakai Kostum Bernomor Punggung 9
Minggu, 26 Desember 2010 | 18:58 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Hindra Liu
Hindra Liu
JAKARTA, KOMPAS.com — Sembilan memang angka favorit Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pada acara nonton bareng final legpertama Piala AFF 2010 antara Indonesia dan Malaysia, Presiden pun mengenakan kaus berkerah warna merah bernomor punggung 9.
Namun, bukan nama striker timnas Indonesia, Christian Gonzales, yang tertera di atas nomor punggung 9, seperti dalam timnas saat ini. Kaus ini didesain khusus untuk Presiden. Di belakang kaus tersebut tertulis nama SBY.
Sementara itu, Ibu Negara Ani Yudhoyono mengenakan kaus berwarna utama putih dan jaket merah. Presiden dan Ibu Ani didampingi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, Menteri Pendidikan M Nuh, anggota DPR sekaligus kader Partai Demokrat, Ruhut Sitompul, dan lainnya. Selain itu, Presiden juga didampingi para pemain klub sepak bola Cikeas Junior.
Acara menonton bareng ini digelar di pendapa kediaman Presiden. Sebuah tenda besar dipasang di halaman pendapa, lengkap dengan sembilan AC berdiri. Ada pula layar lebar dan enam televisi layar datar. Tak lupa, berbagai panganan, seperti bakso, disediakan.
Di luar kompleks kediamannya, Presiden juga menyediakan tempat menonton. Sebuah layar lebar, tenda, dan ratusan kursi disediakan. Warga sekitar terlihat memadati area tempat menonton tersebut. Ketika lagu kebangsaan "Indonesia Raya" dan lagu kebangsaan Malaysia dikumandangkan, Presiden beserta undangan turut bangkit berdiri.
Editor: Tri Wahono   |  Dibaca : 5900